Thursday, December 16, 2010

Erti Cinta & Perkahwinan

ERTI CINTA

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya boleh menemukan cinta?

Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh berundur kembali, kemudian ambillah satu sahaja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, ertinya kamu telah menemukan cinta.” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saha

ja, dan saat berjalan tidak mundur kembali(berbalik)”.

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tidak ku ambil ranting tersebut. Saat aku meneruskan perjalanan lebih jauh lagi, baru ku sedari bahawasanya ranting-ranting yang ku temukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatang pun pada akhirnya”.

Gurunya kemudian menjawab, “Jadi ya, itulah cinta”.

(Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang dia dapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang dia dapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar. Terimalah cinta apa adanya)


ERTI PERKAHWINAN....

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi

pada gurunya, “Apa itu perkahwinan? Bagaimana saya mampu menemukannya?”

Gurunya menjawab ; Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa menoleh ke belakang dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, kerana ertinya kamu telah menemukan apa itu perkahwinan”.

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan aku rasa tidaklah buruk yang amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mahu menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”.

Gurunya kemudian menjawab, “Dan ia, itulah perkahwinan”.

(Perkahwinan adalah lanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik di antara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, ketika kesempurnaan ingin kamu dapatkan, maka sia-sialah waktu dalam mendapatkan perkahwinan itu, kerana kesempurnaan itu mengecewakan.)


No comments:

Post a Comment